Intermezo ★ Yang Belum Kamu Tahu tentang Pertempuran 10 November

4 minute read

Pada Jumat 9 September 1945, pesawat-pesawat Inggris sengaja terbang menjatuhkan selebaran kertas dari udara ke seluruh penjuru kota Surabaya. Selebaran itu adalah ultimatum dari Inggris yang meminta para pejuang Surabaya untuk menyerahkan senjata pada 10 November 1945 paling lambat pukul 06.00 pagi.

Tak cuma itu, selebaran tersebut berisi pesan kepada siapa pun untuk menyerahkan orang yang bertanggung jawab atas tewasnya Brigadir Jenderal Mallaby pada 30 Oktober 1945. Sudah dipastikan, saat itu amarah Britanita Raya sedang membuncah kepada arek-arek Suroboyo.

Namun, alih-alih takut, para pejuang dan pemuda dari seluruh Surabaya malah menantang Inggris untuk berjibaku atau perang terbuka. Hal itu terungkapkan dalam pidato Bung Tomo pada 10 November 1945.

“Tuntutan itu, walaupun kita tahu bahwa kau sekali lagi akan mengancam kita untuk menggempur kita dengan kekuatan yang ada tetapi inilah jawaban kita… selama banteng-banteng Indonesia masih punya darah merah yang dapat membikin secarik kain putih merah dan putih… maka selama itu tidak akan kita mau menyerah kepada siapa pun juga,” ujarnya.

Sontak pidato yang disampaikan dengan semangat berapi-api lewat radio tersebut menyulut semangat arek-arek Suroboyo untuk tak gentar menghadapi ultimatum Inggris. Walau pasukan Inggris dilengkapi dengan senjata dan armada yang canggih kala itu, mereka pun siap bertarung habis-habisan mempertahankan harga dirinya sebagai bangsa Indonesia.

Bung Tomo ketika menyampaikan pidato lewat radio jelang pertempuran 10 November 1945 _tribunnews.com.

Dalam berbagai kisah sejarah pertempuran 10 November diceritakan bahwa peristiwa itu menjadi perang terbuka terbesar Indonesia sesudah proklamasi kemerdekaan.

Menurut Merle Calvin Ricklefs, dalam A History of Modern Indonesia Since c.1300, tercatat setidaknya 6.000-16.000 pejuang dari pihak Indonesia tewas dan 200.000 rakyat sipil mengungsi dari Surabaya sebagai imbas dari pertempuran tersebut.

Sementara itu, taksiran Woodburn Kirby dalam The War Against Japan (1965), korban dari pihak sekutu sejumlah 600-2.000 tentara.

Lalu, di manakah tempat baku tembak dan korban tewas pertama di Surabaya pada waktu itu?

Nugroho Notosusanto dalam buku Pertempuran Surabaya terbitan 1985 menulis bahwa kontak senjata antara pejuang Surabaya dan tentara sekutu Inggris kali pertama terjadi di sekitaran Theater atau Bioskop Sampoerna dan Pabrik Rokok Liem Seeng Tee.

Jadi, pagi 10 November 1945, di sekitaran itu ada 100 pejuang yang terdiri dari Pemuda Republik Indonesia (PRI) dan badan-badan perjuangan lainnya. Mereka kebanyakan berasal dari daerah Tambak Bayan, Nggringsing, Kebalen, dan Labuan.

Dari 100 orang tersebut, ada 20 pemuda bersenjata lengkap yang telah bergabung dua hari sebelumnya. Usia mereka 17-20 tahun dan umumnya menggunakan seragam tentara Jepang.

Kondisi bangunan Sampoerna Theater sekarang ini Dok House of Sampoerna (Hos)

Mereka berkumpul tanpa ada yang mengoordinasi alias datang atas kehendak sendiri-sendiri dengan tujuan untuk mempertahankan daerah tersebut.

Usai pesawat-pesawat pengebom Inggris melakukan bombardeman atau menjatuhkan bom ke kota Surabaya sejak pukul 10.00 WIB, kendaraan tank dan pasukan infranteri angkatan darat Britinia Raya lalu bergerak menelusuri jalan-jalan kota tersebut.

Mereka lalu bertemu dengan 100 pemuda yang sudah siap siaga di sekitaran Sampoerna Theater dan pabrik rokok Liem Seeng Tee. Kontak senjata pun terjadi, dan tentara Inggris yang kebanyakan berasal dari India itu berhasil merebut kawasan tersebut.

Dalam pemberitaan Suara Karya, Senin (11/11/1974), berjudul “Kisah Kapten Muslimin Tentang Pahlawan Tak Dikenal”, tercatat ada 7 pemuda yang gugur dalam pertempuran itu. Mereka kebanyakan berusia 17-18 tahun dan tanpa diketahui identitasnya.

Seperti yang ditulis Nugroho Notosusanto, para pejuang yang gugur di depan Sampoerna Theater adalah kelompok pejuang yang kali pertama gugur dalam pertempuran 10 November Surabaya, yang memberi makna penting bagi sejarah kemerdekaan kita.

Menelusuri jejak pertempuran awal

Nah, bagi Anda yang ingin mengenang dan penasaran dengan jejak pertempuran awal 10 November tersebut, bangunan kompleks Sampoerna Theater itu masih terawat dengan baik dan sekarang dikenal dengan nama House of Sampoerna (HoS).

HoS pun kini telah berkembang menjadi salah satu ikon kota Surabaya dan Jawa Timur. Hal Ini karena HoS tak hanya terkenal sebagai tempat wisata sejarah, tetapi juga obyek wisata budaya, dan seni.

Area seluas 1,5 hektar ini terdiri atas beberapa bangunan, dengan gedung besar di tengah dan rumah kecil mengapitnya di kiri dan kanan. Gedung besar yang berada di tengah-tengah itu dahulu adalah Sampoerna Theater dan sekarang sudah berubah fungsi menjadi museum sejarah perjalanan Sampoerna.

Selain melihat benda-benda bersejarah yang menceritakan sejarah pendirian perusahaan Sampoerna, pengunjung pun masih bisa menyaksikan produksi rokok kretek secara tradisional atau dilinting dari lantai 2 museum. Di bagian belakang bangunan utama ini terdapat pabrik yang masih memproduksi rokok kretek yang telah eksis sejak 1913.

Salah satu bagian ruangan di museum House of Sampoerna (HoS)Dok House of Sampoerna (HoS) _kisahklasikduniaku.blogspot.com

Tripadvisor memasukkan House of Sampoerna dalam jajaran 10 museum terbaik di Indonesia pada 2017 ini. Alasannya karena museum ini mendapat lebih dari 1.175 ulasan positif dari masyarakat dan menjadi destinasi favorit para turis baik dalam maupun luar negri.

Berkat ulasan itu pula bangunan bersejarah ini pun mendapatkan Certificate of Excellence 2017. Lalu, bagimana dengan rumah kecil yang ada di kiri dan kanan museum itu?

Jadi, dahulu rumah tersebut adalah tempat tinggal keluarga Sampoerna. Rumah di bagian barat itu sejak Minggu (27/8/2017) telah berubah fungsi dan resmi bisa dinikmati masyarakat sebagai ruang pamer sementara. Rumah itu diberi nama “The Residence”.

Sementara itu, rumah yang menghadap timur atau di sisi kanan bangunan utama telah berubah fungsi menjadi kafe. TripAdvisor juga memberikan pengakuan positif terhadap fasilitas kuliner di kafe ini.

Nah, selain museum dan The Residence, ada pula galeri, bus Surabaya Heritage Track (SHT), serta museum shop di kompleks HoS.

Bagaimana, menarik bukan? Jadi, Anda tidak hanya bisa mengetahui jejak-jejak sejarah pertempuran 10 November, tetapi menikmati wisata seni dan budaya.

Selamat mencoba!

  • Penulis: Mikhael Gewati
  • Editor: Dimas Wahyu
  • Dipublikasikan: Kompas.com

Comments